Senin, 26 April 2010

Penting Teknologi Informasi

Tak perlu dipertanyakan lagi, Teknologi Informasi telah memberi warna dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Terlepas segala perdebatan tentang penting atau tidaknya Teknologi Informasi bagi kita, sulit disangkal bahwa perkembangan teknologi yang satu ini mampu memberikan perubahan yang cukup dahsyat. Tidak bisa dipungkiri pula memang, Teknologi Informasi yang merupakan hasil sebuah evolusi teknologi, mau tidak mau harus diakui telah menciptakan tidak saja sebuah kecepatan, tapi percepatan dalam pola hidup manusia.Terlalu banyak contoh yang membuat kita tidak dapat menyangkal pentingnya Teknologi Informasi. Tidak usah bicara tentang negara adidaya Amerika, atau kelompotan negara Eropa dan Jepang. Sebuah negara seperti India yang mungkin tingkat ekonominya tidak jauh berbeda dengan Indonesia mampu memberikan devisa yang sangat besar. Lihat saja raksasa software Microsoft, yang mayoritas pembuat softwarenya banyak dikuasai oleh orang-orang India.

Teknologi Informasi membuat kita dapat belajar dan mendapatkan apa yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dari siapa saja. The world in your fingertip, itulah filosofi Teknologi Informasi. Jika reformasi berbicara tentang transparansi, TI telah membuktikannya. Kalau sekarang kita ditakutkan oleh kesiapan kita terhadap kondisi globalisasi, yang menuntut sebuah standarisasi, TI memberikan peluang-peluang tersebut.

TI mampu membuat ulang atau membuat balik manusia. Sebagaimana sudah terjadi sejak lama, IT berpengaruh jauh lebih besar dari sekadar fungsi pendukung dan pembantu. Kehadiran barang-barang seperti komputer kecil, internet, telepon seluler dan sejenisnya, telah merubah banyak sekali kehidupan.

Dulu, ketika pengaruh IT belum dahsyat, orang muda belajar ke orang tua. Dalam dunia yang IT intensive, berlaku hukum terbalik : ‘orang tua belajar dari anak muda’. Atau sebut saja dunia kerja (termasuk pemerintahan) yang dulu indentik dengan absensi. Sekarang, ada banyak sekali eksekutif yang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan lebih efektif, tanpa perlu hadir dan mengabsenkan diri di kantor. Dunia pendidikan juga berubah, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau akan ada virtual university.

Kegiatan berbisnis apa lagi, sekarang memang masih di persimpangan jalan antara ekonomi baru dan ekonomi lama. Sudah menjadi ciri IT sejak awal, perubahan agak lambat di awal, tetapi begitu perubahan datang, ia lebih cepat dan dahsyat dari air bah manapun. Kegiatan pemerintahan juga tidak luput dari pengaruh IT. Sudah menjadi rahasia umum, kalau sejumlah negara yang fundamen ekonominya keropos, kemudian dipermainkan spekulan uang, hanya melalui sejumlah tekanan di key board komputer. Sayapun tidak kaget jika Jepang atau Amerika lebih mengetahui potnsi kekayaan alam yang kita miliki daripada kita sendiri sebagai pemiliknya.

Begitu pula halnya dalam sektor pemerintahan. Pemerintah sebenarnya tidak dapat menolak kehadiran teknologi ini. Justru sebenarnya penerintah akan dapat banyak terbantukan.Sayangnya, saat ini Indonesia masih belum sampai ditahap itu. Ada beberapa paradigma yang saat ini masih berkembang di Indonesia tentang Teknologi Informasi :

1. Teknologi Informasi merupakan teknologi yang sangat membutuhkan dana. Ditengah keterpurukan ekonomi Indonesia, Teknologi Informasi sebenarnya masih menjadi anak tiri.
2. Investasi pengembangan TI masih dianggap belum seimbang dengan hasil dan manfaat yang diterima.
3. Indonesia masih memiliki banyak masalah besar yang perlu penanganan serius.

Pendapat ini bisa dianggap benar, bisa juga kurang tepat. Tidak selalu pengembangan TI itu mahal. Seorang Onno W Purbo, pakar TI kita yang notabene bermain TI setiap harinya, ternyata hanya menghabiskan uang Rp. 300.000,- setiap bulannya untuk koneksi Internet. Jadi, hal ini hanya masalah pemahaman kita tentang apa dan bagaimana TI itu, perencanaan yang matang tentang prioritas mana yang lebih dahulu dibutuhkan, apa yang dibutuhkan masyarakat, dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.

Berikutnya perlu dipahami bahwa implementasi TI akan memberikan hasil yang optimal jika diimbangi dengan pemahaman SDM kita, baik pimpinan pemerintahan maupun staf, mengenai IT itu sendiri. Harus kita akui, Indonesia masih belum berada dalam posisi yang membanggakan. Jangankan bicara TI, dalam sebuah presentasi yang disampaikan oleh 5 pembicara di 3 tempat yang berbeda ; Maryland-USA, Tokyo, Jepang, dan Bangkok Thailand, (sedangkan saya mengikutinya dari Malang, Indonesia), Salah seorang pembicara, Prof. Lawrence Klien dan Prof Gerald Adams, 2 pakar ekonomi penerima hadiah nobel ekonomi tahun 1999, secara statistik dari hasil survei World Bank, per –1000 orang, hanya 8.2 rakyat Indonesia yang mengerti tentang komputer, dan hanya 1 orang yang mengerti tentang TI. Bandingkan dengan Singapura dengan 458.4 orang yang bisa mengoperasikan komputer dan 452.2-nya telah biasa menggunakan TI.

Dan point penting berikutnya, adalah adanya dukungan policy yang kuat dari pucuk pimpinan pemerintahan. Perlu disadari, bahwa dalam implementasi TI, ketiga komponen tersebut ; perencanaan yang matang, pemahaman dan pendidikan serta pelatihan SDM tentang TI serta dukungan policy yang kuat untuk menerapkan TI harus dijalankan secara simultan. Bayangkan jika sebuah layanan yang baik telah dibuat, tapi SDM-yang menjalankannya tidak mengerti. Atau karena pimpinan tidak memberikan policy yang kuat, sehingga walaupun SDM-nya sudah dilatih, tetapi ilmunya tidak diterapkan, tentu saja tidak akan memberikan hasil yang maksimal.

Diluar komunitas bisnis, sepertinya Teknologi Informasi masih sebatas sebuah komoditas dan eforia. Akibatnya teknologi ini dipertanyakan manfaatnya. Seharusnya dalam sebuah investasi TI untuk Indonesia biaya paling mahal seharusnya dialokasikan untuk peningkatan kualitas SDM. Apapun alasannya, nyawa sebuah teknologi tetap pada penggunanya. Disinilah faktor pendidikan dan pelatihan menjadi sangat penting.

dalam pengembangan sisten informasi juga dapat dibantu dengan adanya teknologi dan sumber daya manusia yang memadai. Dapat di ambil dari contoh website yang menyuguhkan artikel betapa pentingnya sistem informasi pada saat ini, dapat dilihat dari website kuliahbersama.com.
semoga dengan adanya panduan tersebut dapat membantu kita dalam menggunakan maupun menerapkan sistem informasi.


anton pravictor/16910

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM DUNIA KERJA

Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik.
ERA KOMPUTERISASI
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan perusahaan seperti IBM ke dunia industri. Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak sekali perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing). Pemakaian komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian ketat. Jumlah perusahaan pun masih relatif sedikit. Kebanyakan dari perusahaan perusahaan besar secara tidak langsung “memonopoli pasar-pasar tertentu, karena belum ada pesaing yang berarti. Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Di pihak lain, kemampuan mainframe untuk melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan untuk membantu menyelesaikan problem-problem teknis operasional, seperti simulasi-simulasi perhitungan pada industri pertambangan dan manufaktur.

ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Kemajuan teknologi digital yang dipadu dengan telekomunikasi telah membawa komputer memasuki masa-masa “revolusi”-nya. Di awal tahun 1970-an, teknologi PC atau Personal Computer mulai diperkenalkan sebagai alternatif pengganti mini computer. Dengan seperangkat komputer yang dapat ditaruh di meja kerja (desktop), seorang manajer atau teknisi dapat memperoleh data atau informasi yang telah diolah oleh komputer (dengan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan mini computer, bahkan mainframe). Kegunaan komputer di perusahaan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, namun lebih jauh untuk mendukung terjadinya proses kerja yang lebih efektif. Tidak seperti halnya pada era komputerisasi dimana komputer hanya menjadi “milik pribadi” Divisi EDP (Electronic Data Processing)
perusahaan, di era kedua ini setiap individu di organisasi dapat memanfaatkan kecanggihan komputer, seperti untuk mengolah database, spreadsheet, maupun data processing (end-user computing). Pemakaian komputer di kalangan perusahaan semakin marak, terutama didukung dengan alam kompetisi yang telah berubah dari monompoli menjadi pasar bebas. Secara tidak langsung, perusahaan yang telah memanfaatkan teknologi komputer sangat efisien dan efektif dibandingkan perusahaan yang sebagian prosesnya masih dikelola secara manual. Pada era inilah komputer memasuki babak barunya, yaitu sebagai suatu fasilitas yang dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan, terutama yang bergerak di bidang pelayanan atau jasa.

Teori-teori manajemen organisasi modern secara intensif mulai diperkenalkan di awal tahun 1980-an. Salah satu teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan adalah mengenai manajemen perubahan (change management). Hampir di semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang ingin menang dalam persaingan bisnis. Tidak seperti pada kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur teknologi, pada era manajemen perubahan ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, dimana komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem tersebut. Kunci dari keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat. Informasi di dalam perusahaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus selalu mengalir dengan teratur, cepat, terus-menerus, ke tempat-tempat yang membutuhkannya (strategis). Ditekankan oleh beberapa ahli manajemen, bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market”. Di dalam periode ini, perubahan secara filosofis dari perusahaan tradisional ke perusahaan modern terletak pada bagaimana manajemen melihat kunci kinerja perusahaan. Organisasi tradisional melihat struktur perusahaan sebagai kunci utama pengukuran kinerja, sehingga semuanya diukur secara hirarkis berdasarkan divisi-divisi atau departemen. Dalam teori organisasi modern, dimana persaingan bebas telah menyebabkan customers harus pandai-pandai memilih produk yang beragam di pasaran, proses penciptaan produk atau pelayanan (pemberian jasa) kepada pelanggan merupakan kunci utama kinerja perusahaan. Keadaan ini sering diasosiasikan dengan istilah-istilah manajemen seperti “market driven” atau “customer base company” yang pada intinya sama, yaitu kinerja perusahaan akan dinilai dari kepuasan para pelanggannya. Sangat jelas dalam format kompetisi yang baru ini, peranan komputer dan teknologi informasi, yang digabungkan dengan komponen lain seperti proses, prosedur, struktur organisasi, SDM, budaya perusahaan, manajemen, dan komponen terkait lainnya, dalam membentuk sistem informasi yang baik, merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan secara strategis.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kepuasan pelanggan terletak pada kualitas pelayanan. Pada dasarnya, seorang pelanggan dalam memilih produk atau jasa yang dibutuhkannya, akan mencari perusahaan yang menjual produk atau jasa tersebut: cheaper (lebih murah), better (lebih baik), dan faster (lebih cepat). Disinilah peranan sistem informasi sebagai komponen utama dalam memberikan keunggulan kompetitif perusahaan. Oleh karena itu, kunci dari kinerja perusahaan adalah pada proses yang terjadi baik di dalam perusahaan (back office) maupun yang langsung bersinggungan dengan pelanggan (front office). Dengan memfokuskan diri pada penciptaan proses (business process) yang efisien, efektif, dan terkontrol dengan baiklah sebuah perusahaan akan memiliki kinerja yang handal. Tidak heran bahwa di era tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an terlihat banyak sekali perusahaan yang melakukan BPR (BusinessProcess Reengineering), re-strukturisasi, implementasi ISO-9000, implementasi TQM, instalasi dan
pemakaian sistem informasi korporat (SAP, Oracle, BAAN), dan lain sebagainya. Utilisasi teknologi informasi terlihat sangat mendominasi dalam setiap program manajemen perubahan yang dilakukan perusahaan-perusahaan

ERA GLOBALISASI INFORMASI
Belum banyak buku yang secara eksplisit memasukkan era terakhir ini ke dalam sejarah evolusi teknologi informasi. Fenomena yang terlihat adalah bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an, perkembangan dibidang teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) sedemikian pesatnya, sehingga kalau digambarkan secara grafis, kemajuan yang terjadi terlihat secara eksponensial. Ketika sebuah seminar internasional mengenai internet diselenggarakan di San Fransisco pada tahun 1996, para praktisi teknologi informasi yang dahulu bekerja sama dalam penelitian untuk memperkenalkan internet ke dunia industri pun secara jujur mengaku bahwa mereka tidak pernah menduga perkembangan internet akan menjadi seperti ini. Ibaratnya mereka melihat bahwa yang ditanam adalah benih pohon ajaib, yang tiba-tiba membelah diri menjadi pohon raksasa yang tinggi menjulang. Sulit untuk ditemukan teori yang dapat menjelaskan semua fenomena yang terjadi sejak awal tahun 1990-an ini, namun fakta yang terjadi dapat disimpulkan sebagai berikut:
Tidak ada yang dapat menahan lajunya perkembangan teknologi informasi. Keberadaannya telah menghilangkan garis-garis batas antar negara dalam hal flow of information. Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi. Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi. Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet. Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet. Transaksi-transaksi perdagangan dapat dengan mudah dilakukan di cyberspace melalui electronic transaction dengan mempergunakan electronic money.
Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi. Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar.

Hal terakhir yang paling memusingkan kepala manajemen adalah kenyataan bahwa lingkungan bisnis yang ada pada saat ini sedemikian seringnya berubah dan dinamis. Perubahan yang terjadi tidak hanya sebagai dampak kompetisi yang sedemikian ketat, namun karena adanya faktor-faktor external lain seperti politik (demokrasi), ekonomi (krisis), sosial budaya (reformasi), yang secara tidak langsung menghasilkan kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan baru yang harus ditaati perusahaan. Secara operasional, tentu saja fenomena ini sangat menyulitkan para praktisi teknologi informasi dalam menyusun sistemnya. Tidak jarang di tengah-tengah konstruksi sistem informasi, terjadi perubahan kebutuhan sehingga harus diadakan analisa ulang terhadap sistem yang akan dibangun. Dengan mencermati keadaan ini, jelas terlihat kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan. Para praktisi negara maju menjawab tantangan ini dengan menghasilkan produk-produk aplikasi yang berbasis objek, seperti OOP (Object Oriented Programming), OODBMS (Object Oriented Database Management System), Object Technology, Distributed Object, dan lain sebagainya.

PERUBAHAN POLA PIKIR SEBAGAI SYARAT
Dari keempat era di atas, terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri hingga saat ini terkait erat satu dan lainnya. Memasuki abad informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi informasi. Mempergunakan teknologi informasi seoptimum mungkin berarti harus merubah mindset. Merubah mindset merupakan hal yang teramat sulit untuk dilakukan, karena pada dasarnya “people do not like to change”. Kalau pada saat ini dunia maju dan negara-negara tetangga Indonesia sudah memiliki komitmen khusus untuk mengambil bagian dalam penciptaan komponen-komponen sistem informasi, bagaimana dengan Indonesia? Masih ingin menjadi negara konsumen? Atau sudah mampu menjadi negara produsen? Paling tidak, hal yang harus ada terlebih dahulu di setiap manusia Indonesia adalah kemauan untuk berubah. Tanpa “willingness to change”, sangat mustahillah bangsa Indonesia dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun kembali bangsa yang hancur ditelan krisis saat ini.

anton pravitor/16910

Konsep Dasar Sistem Informasi

Pada saat ini dunia industri dan bisnis memerlukan informasi yang tepat, cepat dan relevan. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan tentunya harus menggunakan sistem informasi. Sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya.
Sistem informasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem di dalam suatu organisasi yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan

Informasi dalam suatu lingkungan sistem informasi harus mempunyai persyaratan umum sebagai berikut :

· harus diketahui oleh penerima sebagai referensi yang tepat

· harus sesuai dengan kebutuhan yang ada dalam proses pembuatan / pengambilan keputusan

· harus mempunyai nilai surprise, yaitu hal yang sudah diketahui hendaknya jangan diberikan

· harus dapat menuntun pemakai untuk membuat keputusan. Suatu keputusan tidak selalu menuntut adanya tindakan.

Sistem informasi harus mempunyai beberapa sifat seperti :

· Pemrosesan informasi yang efektif. Hal ini berhubungan dengan pengujian terhadap data yang masuk, pemakaian perangkat keras dan perangkat lunak yang sesuai

· Manajemen informasi yang efektif. Dengan kata lain, operasi manajemen, keamanan dan keutuhan data yang ada harus diperhatikan

· Keluwesan. Sistem informasi hendaknya cukup luwes untuk menangani suatu macam operasi

· Kepuasan pemakai. Hal yang paling penting adalah pemakai mengetahui dan puas terhadap sistem informasi.
Komponen Sistem Informasi


Sistem informasi mempunyai enam buah komponen atau disebut juga dengan blok bangunan (building block), yaitu :

1. Komponen input atau komponen masukan
2. Komponen model
3. Komponen output atau komponen keluaran
4. Komponen teknologi
5. Komponen basis data
6. Komponen kontrol atau komponen pengendalian.

Keenam komponen ini harus ada bersama-sama dan membentuk satu kesatuan. Jika satu atau lebih komponen tersebut tidak ada, maka sistem informasi tidak akan dapat melakukan fungsinya, yaitu pengolahan data dan tidak dapat mencapai tujuannya, yaitu menghasilkan informasi yang relevan, tepat waktu dan akurat.
dalam pengembangan sisten informasi juga dapat dibantu dengan adanya teknologi dan sumber daya manusia yang memadai. Dapat di ambil dari contoh website yang menyuguhkan artikel betapa pentingnya sistem informasi pada saat ini, dapat dilihat dari website kuliahbersama.com.
semoga dengan adanya panduan tersebut dapat membantu kita dalam menggunakan maupun menerapkan sistem informasi.







Nama: Anton Pravictor/16910